Jurnal Agroteknologi https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi <p>Jurnal Agroteknologi adalah jurnal yang terbit enam bulan sekali, yaitu di bulan Juli dan Januari. Jurnal ini bergerak dalam bidang Ilmu Tanah, Budidaya Tanaman, Pemuliaan Tanaman, Bioteknologi, Konservasi Tanah dan Air, Evaluasi Lahan, serta Kesuburan Tanah dan Pemupukan.</p> Fakultas Pertanian en-US Jurnal Agroteknologi 2807-7369 PENGARUH MEDIA TANAM DAN PENGGUNAAN JENIS SUMBU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASILTANAMAN PAKCOY (Brassica rapa subsp L.) HIDROPONIK SISTEM WICK https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi/article/view/2501 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaruh media tanam dan<br>penggunaan jenis sumbu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy<br>(brassica rapa subsp L.) Hidroponik sistem wick. Penelitian ini dilaksanakan dari<br>bulan Januari sampai Maret 2025. Lokasi penelitian bertempat di Jl. lintas<br>Sumbawa Semogkat, Sering, Desa Kerato Kecamatan Unter Iwes, Nusa Tenggara<br>Barat. Penelitian menggunakan rancangan acak Lengkap (RAL) faktorial terdiri<br>dari dua faktor yaitu, faktor pertama media tanam, faktor kedua jenis sumbu<br>masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Faktor media tanam terdiri<br>dari dua tarap media sabut kelapa (M1) dan media sekam bakar (M2). Faktor sumbu<br>terdiri dari tiga taraf yaitu sumbu flanel (S1), sumbu katun (S2) dan tanpa sumbu<br>(S0). Analisis data menggunakan Analisis Varians (Anova) pada taraf 5%.<br>Perlakuan penggunaan media tanam menunjukkan hasil yang tIdak berbeda nyata<br>dari kedu nya. Namun hasil memiliki kecenderungan yang berbeda terletak pada<br>media sekam bakar bahwa sekam bakar lebi dominan memberikan pengaruh dari<br>pada sabut kelapa, pada semua peubah pertumbuhan tanaman. Perlakuan tunggal<br>penggunaan sumbu menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap peubah tinggi<br>tanaman (cm) umur 21,28, dan 35 hari setelah pindah tanam (HSPT), hasil terbaik<br>terletak pada perlakuan sumbu katun (S2). Pada parameter jumlah daun<br>menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada umur 21,28 dan 35 hari setelah<br>pinda tanaman (HSPT), dan Perlakuan kombinasi media tanam dengan sumbu<br>memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap peubah pertumbuhan dan hasil<br>tanaman dan tidak perpengarau nyata pada pertumbuhan banyaknya daun. Hasil<br>terbaik terletak pada perlakuan kombinasi antara media tanam sekam bakar dengan<br>Sumbu katun (M2S2) pada tinggi tanaman dan (M2S1) pada berat basah.</p> Heri Kusnayadi Kaisar Sangkuriang Ade Mariyam Oklima Copyright (c) 2026 Jurnal Agroteknologi 2026-07-25 2026-07-25 6 2 74 85 10.58406/ja.v6i2.2501 UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA DAN JAGUNG LOKAL DI LAHAN KERING PADA MUSIM TANAM KEDUA https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi/article/view/2502 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi dan produksi beberapa varietas jagung hibrida dan jagung lokal di lahan kering pada musim tanam kedua. Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Samawa (UNSA), Sumbawa, Nusa Tenggara Barat,. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial yang terdiri dari enam perlakuan varietas, yaitu tiga varietas hibrida (NK 99, Pioner 35, Bisi 18) dan tiga varietas lokal Sumbawa (Belang Bomak, Sudi, Putih). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varians (ANOVA) serta uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas jagung lokal memiliki tingkat adaptasi pertumbuhan (vegetatif) yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung hibrida. Jagung lokal varietas Belang Bomak (V4) menunjukkan adaptasi yang paling tinggi pada parameter tinggi tanaman dan jumlah daun di umur 28 hari setelah tanam. Sebaliknya, pada komponen hasil panen, varietas jagung hibrida menunjukkan produktivitas yang lebih unggul dibandingkan jagung lokal. Jagung varietas hibrida Bisi 18 (V3) memberikan hasil tertinggi pada semua parameter hasil, meliputi berat buah (128,03 g), berat tongkol (112,83 g), panjang tongkol (12,89 cm), jumlah baris per tongkol (13,78 baris), bobot 1.000 butir (321,67 g), dan hasil produksi per hektar yang mencapai 7,78 ton/ha. Disimpulkan bahwa jagung lokal Sumbawa lebih adaptif secara pertumbuhan fisik di lahan kering, namun jagung hibrida khususnya Bisi 18 memiliki potensi hasil produksi yang jauh lebih tinggi.<br>Kata Kunci: Adaptasi, Jagung Hibrida, Jagung Lokal, Lahan Kering.</p> Masani Masani Ade Mariyam Oklima Ikhlas Suhada Copyright (c) 2026 Jurnal Agroteknologi 2026-07-25 2026-07-25 6 2 86 95 10.58406/ja.v6i2.2502 PENGARUH PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI INDIKATOR KESUBURAN TANAH PADA LAHAN BUDIDAYA PERTANIAN JAGUNG DI DESA SERADING KECAMATAN MOYO HILIR https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi/article/view/2503 <p>Penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan iklim yang ditinjau dari dinamika suhu udara dan curah hujan serta keterkaitannya dengan tingkat kesuburan tanah pada lahan budidaya jagung di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Juni 2025, berlokasi di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, menggunakan metode survei lapangan dan analisis laboratorium. Analisis data iklim dilakukan menggunakan metode neraca air Thornthwaite–Mather untuk mengevaluasi ketersediaan air berdasarkan keseimbangan antara curah hujan dan evapotranspirasi, sedangkan analisis sifat tanah meliputi tekstur, pH, kandungan karbon organik (C-organik), dan fosfor total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan bulanan berkisar antara 47,6–147,8 mm dengan kecenderungan penurunan selama musim kemarau, mengakibatkan terjadinya defisit air serta peningkatan evapotranspirasi potensial (ETo). Analisis sifat tanah menunjukkan bahwa tanah bertekstur lempung berpasir dengan pH berkisar 5,6–7,0, kandungan C-organik sebesar 1,5–2,8% tergolong rendah hingga sedang, serta kandungan fosfor total yang berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perubahan iklim berkontribusi terhadap penurunan kualitas kesuburan tanah melalui berkurangnya ketersediaan air dan unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman jagung. Penerapan pemupukan organik, konservasi tanah dan air, serta penggunaan varietas jagung yang toleran terhadap kekeringan sangat diperlukan guna mempertahankan produktivitas lahan kering secara berkelanjutan.</p> Rizka Apriliani Ieke Wulan Ayu Ade Mariyam Oklima Copyright (c) 2026 Jurnal Agroteknologi 2026-07-25 2026-07-25 6 2 96 107 10.58406/ja.v6i2.2503 PENGARUH BENTUK BAHAN DAN PENAMBAHAN ARANG AKTIF TERHADAP KARAKTERISTIK PEMBENAH TANAH BERBAHAN UMBI PORANG (Amorphopallus muelleri Blume) https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi/article/view/2513 <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bentuk bahan dan penambahan arang aktif<br>terhadap karakteristik pembenah tanah (hidrogel) berbahan umbi porang (Amorphopallus muelleri<br>Blume). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kerato Kecamatan Unter Iwes Kabupaten Sumbawa Besar<br>Nusa Tengara Barat (NTB), dari bulan Maret sampai bulan Juni 2021. Metode penelitian<br>menggunakan metode eksperimental, parameter pengamatan yang pertama adalah daya mengembang<br>dan pengujian degradasi. Parameter degradasi menggunakan rancangan acak kelompok (RAK)<br>faktorial dengan 2 faktor : bentuk bahan (M) dan penambahan arang aktif (V) dengan 4 perlakuan dan<br>2 ulangan, selanjutnya di analisis menggunakan ( ANOVA) pada taraf nyata 5%. Sedangkan pada<br>parameter daya mengembang dijelaskan secara deskriptif. Dari hasil pengujian daya mengembang atau<br>swelling test menunjukkan hasil dengan tertinggi pada perlakuan M1V1 (tepung di tambah arang)<br>yaitu 95 gr, sedangkan perlakuan M1V0 (tepung tanpa arang) menunjukan hasil terendah yaitu 80 gr.<br>Perlakuan kombinasi bentuk bahan (M) dan penambahan arang aktif (V) menunjukkan hasil berbeda<br>nyata pada pengamatan degradasi hidrogel pada umur 7 hari setelah tanam. Rerata degradasi hidrogel<br>tertinggi terdapat pada pada perlakuan M2V1 (umbi ditambahkan arang aktif) yaitu 77,00 gr,<br>sedangkan perlakuan M1V0 (tepung ditambahkan arang) memberikan rerata hidrogel terendah yaitu<br>55,00 gr. Perlakuan penambahan arang aktif (V) menunjukkan hasil berbeda nyata pada pengamatan<br>degradasi hidrogel pada umur 7 hari setelah tanam. Rerata degradasi hidrogel tertinggi terdapat pada<br>pada perlakuan V1 (arang aktif) yaitu 50,00 gr, sedangkan perlakuan V0 (tanpa arang aktif)<br>memberikan rerata hidrogel terendah yaitu 39,78 gr.</p> Wening Kusumawardani Muhammad Said Fahrianto Ieke Wulan Ayu Copyright (c) 2026 Jurnal Agroteknologi 2026-07-25 2026-07-25 6 2 108 126 10.58406/ja.v6i2.2513 KERAGAMAN GULMA PADA LAHAN PERTANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN SISTEM TANAM KONVENSIONAL https://e-journallppmunsa.ac.id/index.php/agroteknologi/article/view/2516 <p>Gulma merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam budidaya jagung (Zea mays L.) karena mampu bersaing dengan tanaman dalam memperoleh cahaya, air, unsur hara, dan ruang tumbuh. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi jenis gulma, menganalisis tingkat dominansi, serta mengetahui tingkat keanekaragaman gulma pada lahan pertanaman jagung dengan sistem tanam konvensional di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan, di lahan budidaya jagung, Kelurahan Samapuin,Kecamatan Sumbawa,Kabupaten Sumbawa, Propinsi Nusa Tenggara Barat, dari bulan Nopember 2025-Maret 2025, menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat pada beberapa titik pengamatan. Gulma yang ditemukan diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi, kemudian dianalisis menggunakan parameter Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), Indeks Nilai Penting (INP), dan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H'). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 15 spesies gulma yang tergolong ke dalam 8 famili, dengan famili Poaceae sebagai famili yang paling banyak ditemukan. Gulma yang memiliki tingkat dominansi tertinggi adalah teki (Cyperus rotundus) dengan nilai KR sebesar 18,20%, FR sebesar 12,80%, dan INP sebesar 31,00%, diikuti oleh rumput gajah (Pennisetum purpureum) (20,00%) dan alang-alang (Imperata cylindrica) (18,50%). Nilai indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H') sebesar 2,54 menunjukkan bahwa komunitas gulma pada lahan pertanaman jagung termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gulma dari famili Cyperaceae dan Poaceae mendominasi pertanaman jagung pada fase kritis pertumbuhan. Oleh karena itu, pengendalian gulma sebaiknya diprioritaskan terhadap spesies yang memiliki nilai INP tinggi sebagai upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan gulma dan produktivitas tanaman jagung.</p> Iman Syafitra Ramdhani Ieke Wulan Ayu Ade Mariyam Oklima Copyright (c) 2026 Jurnal Agroteknologi 2026-07-25 2026-07-25 6 2 127 135 10.58406/ja.v6i2.2516